Dinkes Sintang Waspadai Peningkatan Suspek Chikungunya pada Peralihan Musim

SINTANG, TB – Tren peningkatan keluhan penyakit yang dicurigai sebagai Chikungunya dalam dua pekan terakhir Oktober 2026 menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. Masyarakat diminta lebih waspada, terutama di tengah perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim penghujan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Haryono Linoh, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2026 pihaknya telah mencatat 29 kasus suspek Chikungunya.

Dirinya menjelaskan, peningkatan keluhan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa kasus yang tercatat saat ini masih berstatus suspek atau dugaan, bukan diagnosis yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Haryono Linoh mengatakan, untuk memastikan seseorang terjangkit Chikungunya diperlukan pemeriksaan khusus. Sayangnya, fasilitas pemeriksaan tersebut belum tersedia di Kabupaten Sintang sehingga pihaknya belum dapat menyatakan seluruh kasus yang ditemukan sebagai Chikungunya.

“Dari data yang kami himpun, terdapat 29 kasus yang mengarah pada dugaan Chikungunya. Namun, untuk memastikan penyakit tersebut diperlukan pemeriksaan khusus, sementara fasilitas pemeriksaannya belum tersedia di Kabupaten Sintang,” jelas Haryono Linoh.

Haryono Linoh menerangkan bahwa penyakit Chikungunya memiliki karakteristik gejala yang perlu dikenali masyarakat. Salah satunya adalah demam yang muncul secara mendadak dengan peningkatan suhu tubuh cukup drastis.

Berbeda dengan sejumlah penyakit infeksi saluran pernapasan, demam pada Chikungunya biasanya tidak disertai keluhan batuk maupun pilek. Meski demikian, gejala tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan seseorang terinfeksi Chikungunya.

Menurutnya, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan seiring perubahan kondisi cuaca. Masa peralihan menuju musim penghujan perlu diantisipasi dengan memperhatikan kebersihan lingkungan, terutama tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

Masyarakat diharapkan tidak membiarkan air tergenang di sekitar rumah, rutin membersihkan tempat penampungan air, serta memastikan lingkungan tetap terjaga kebersihannya. Langkah tersebut penting sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko berkembangnya nyamuk pembawa penyakit.

Selain menjaga lingkungan, warga yang mengalami demam tinggi secara mendadak diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan. Dengan mengenali gejala lebih awal dan meningkatkan upaya pencegahan, risiko penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat diharapkan dapat dikendalikan.

__Terbit pada
3 November 2026
__Kategori
OPD

Penulis: Admin Teras Borneo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *