Dorong Desa Sisihkan Anggaran untuk Dukung Program Siaga TBC

SINTANG, TB- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah strategis dalam memerangi Tuberkulosis (TBC) dengan secara resmi meluncurkan program “Desa Siaga TBC”. Inisiatif terobosan ini dirancang untuk memperkuat peran serta masyarakat hingga ke tingkat akar rumput, membangun rantai penanggulangan yang integratif mulai dari pencegahan, deteksi dini gejala, hingga pendampingan komprehensif bagi warga yang sedang menjalani masa pengobatan panjang.
Program yang dicanangkan untuk menyasar seluruh desa di wilayah Kabupaten Sintang ini tidak hanya berfokus pada aspek medis semata, tetapi juga pada pemberdayaan komunitas. Melalui program ini, kader kesehatan desa akan dilatih untuk mampu mengenali gejala TBC, melakukan penyuluhan kepada keluarga, serta mendampingi pasien untuk memastikan kepatuhan pengobatan hingga dinyatakan sembuh. Hal ini dianggap krusial mengingat lamanya masa pengobatan TBC yang seringkali menjadi penyebab putus berobat dan memunculkan resistensi obat.
Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Vaulinus Lanan, memberikan apresiasi sekaligus penekanan pentingnya dukungan anggaran. Lanan mengingatkan bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengalokasikan dana desa dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan TBC di wilayahnya. Menurutnya, kebijakan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal agar edukasi dan aksi nyata bisa sampai langsung ke rumah-rumah warga.
“Harapan kita setiap pemerintah desa tidak ragu-ragu menyisihkan anggaran bagi program kesehatan, khususnya penanganan TBC. Jangan sampai anggaran yang ada hanya difokuskan pada pembangunan fisik semata. Kesehatan warga itu jauh lebih penting,” ungkap Lanan.
Sebagai penyakit yang menjadi bagian dari prioritas nasional, TBC membutuhkan penanganan yang holistik dan berkelanjutan. Karena itu, komitmen dari seluruh pihak terkait di Kabupaten Sintang mutlak diperlukan. Dinas Kesehatan selaku leading sector dituntut untuk memastikan seluruh program pendukung, mulai dari edukasi masif, pemeriksaan yang merata, hingga pemantauan ketat terhadap proses pengobatan penderita, dapat berjalan secara maksimal dan terkoordinir.