Harisinto Linoh Harap Prevalensi Stunting Menurun Hingga 14 Persen

SINTANG, TB – Senin, 29 April 2024, Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sintang mengadakan forum rembuk stunting tahun 2024 di Balai Praja Kantor Bupati Sintang.

Adapun 15 desa lokus stunting pada tahun 2024 yaitu Desa Merako Jaya Kec. Serawai, Desa Nanga Segulang Kec. Serawai, Desa Nanga Sakai Kec. Ambalau, Desa Nanga Masau Kec. Kayan Hulu, Desa Lintang Tambuk Kec. Kayan Hulu, Desa Sekujam Timbai Kec. Sepauk, Desa Sungai Sintang Kec. Kayan Hilir, Desa Pakak Kec. Kayan Hilir, Desa Batu Ampar Kec. Ketungau Hilir, Desa Air Nyuruk Kec. Ketungau Hilir, Desa Panggi Ruguk Kec. Ketungau Tengah, Desa Semareh Kec. Ketungau Tengah, Desa Sumber Sari Kec. Ketungau Tengah, Desa Empura Kec. Ketungau Hulu
Dan Desa Embalih Kec. Ketungau Hulu.

Harisinto Linoh selaku Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang berharap Pemerintah Kabupaten Sintang lebih berkerja keras lagi untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Sintang diangka 14 %.

“Kita harus berkerja lebih keras lagi untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Sintang sampai diangka 14% sesuai target pemerintah pusat. Peran lintas sektor atau multi sektor terutama pihak-pihak yang mampu bersinergi dalam pelaksanaan program sangat diperlukan dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sintang, termasuk bunda genre tingkat kecamatan dan tingkat desa yang akan dikukuhkan nanti,” kata Harisinto Linoh.

“pravelensi stunting berdasarkan hasil survei status gizi indonesia (SSGI) tahun 2022 dan survey kesehatan indonesia (SKI) tahun 2023 mengalami fluktuasi turun-naik yang signifikan. Hal ini tentu didasarkan pada hasil survey sampling yang dilakukan oleh lembaga survey itu sendiri yang bersifat independen dan mandiri. Tetapi jika dilihat dari hasil penimbangan melalui elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM) mengalami penurunan yang signifikan yakni 32,6 % tahun 2018, dan 25,25 % % tahun 2024,” tambah Harisinto Linoh.

Harisinto Linoh berharap dengan melibatkan lebih banyak pihak akan mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Sintang, sehingga prevalensi stunting bisa menurun hingga 14% atau bahkan lebih rendah.

“Sekali lagi saya sampaikan pendekatan multi-sektor menjadi salah satu ukuran dari keberhasilan tercapainya penurunan stunting di kabupaten, kecamatan bahkan di tingkat desa, baik yang desa menjadi lokus stunting maupun yang bukan lokus harus berkoordinasi dengan baik dan bergerak bersama dalam pencegahan stunting serta pembangunan desa yang dibiayai dengan anggaran dana desa maupun dana dari pihak lain/swasta, untuk mewujudkan visi dan misi kabupaten sintang yaitu: “terwujudnya masyarakat kabupaten sintang yang cerdas, sehat, maju, religius dan sejahtera, yang didukung penerapan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih pada tahun 2026,” pungkas Harisinto Linoh.

Sumber : Rilis Prokopim
Editor : terasborneo.com

__Terbit pada
29 April 2024
__Kategori
Kalbar, Sintang

Penulis: Admin Teras Borneo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *